"Mayapada" - Anonymous Alliance Review Album

Oleh : Henrikus Setiya Adi (05-01-2017)


Sudah berkali-kali saya mendengarkan lagu milik Anonymous Alliance dalam album Mayapada. Di antara deratan album yang ada dalam kabin dengar saya, album ini selalu menarik perhatian untuk direview. Namun, saya masih ragu untuk menuliskan sesuatu tentang album mereka. Pada akhirnya album ini saya abaikan kemudian lenyap bersama laptop yang hilang dicuri sehari sebelum perayaan Iedul Fitri tahun ini. Mungkin himpitan ekonomi memaksa orang tersebut untuk mencuri. Bisa jadi, saya yang kurang bersyukur dan membantu sesama sehingga diambilah laptopnya.

Saya mencoba kembali menghubungi salah satu personil Anonymous Alliance untuk meminta dikirim file lagu mereka. Seiring dengan kenikmatan menulis yang dirasakan oleh saya beberapa waktu terakhir, kali ini saya benar-benar harus melanjutkan sampai tuntas tentang apa yang bisa dinikmati dalam album Mayapada.

Anonymous Alliance terlahir di kota Cirebon dengan formasi preacher bernama Sentris, Ragakilla, dan Alfa pada tahun 2009. Melacak mereka cukup sulit jika hanya merujuk pada media-media hip hop ternama di Indonesia. Mungkin saja karena jauhnya posisi Anonymous Alliance dari keriuhan skena hip hop dengan jenis itu-itu saja. Di tengah kesepian dan kesunyiannya, mereka mampu menghasilkan sebuah karya yang tak biasa. Begitupun album ini mampu mewakili kondisi sepi dan sunyi tersebut. Mayapada lahir tahun 2015 dalam naungan Thinktrack Record Cirebon. Berisikan 10 track diawali dengan Intro tanpa aksen apapun, membuat saya menerka apa yang hendak disampaikan dalam album ini. Kesunyian tanpa pengantar semacam spoken word jenis poetry, poetry slams,monologues sebagai adlibs di dalamnya. Sekilas saya mendengar alunan musik shoegaze ambience yang biasa dimainkan oleh Piana.

Lagu selanjutnya berjudul Alpha dengan memposisikan diri sebagai pembuka tabir dari kondisi yang sudah banyak terlupa. Saat semua nilai sudah menjadi kabur, pemahaman sudah lebur dengan fana kehidupan, mereka mencoba menggambarkan dengan lirik pada bagian verse Ragakilla berikut: “Bernazam kata pada Sinar Dunia//menjelma lisan pada oktaf swara//Mali rupa kholwat untuk kenduri raga//sempat banal, mewaris klasia Sindur dunia//bercerita pada senja tentang sandiwara//memandang cakrawala sepintas uji terka//namun Udwan bermaisiru pada darah//hingga yang ada menjadi tiada tak bermakna//menjadi eksil, selaras ajar fawadil//kita kerdil iktibarkan suluh Maha Adil//haramula mengukir srupa jara-jara//sedang mata yang bebas hanyalah mata-mata//kita dahaga meneguk tirta suka-duka//ditempa menjadi junun atas cipta damba//diedar adidaya akan tipu daya-fana//sedang mata yang bebas hanyalah mata-mata”. Saya tidak menemukan kata-kata di dalam lagu ini melalui kamus popular yang ada. Bahasa puitis yang dirangkai oleh mereka justru saya temukan dalam buku-buku bertema epistemologi islam. 

Setelah menjelaskan kondisi yang banyak terlupa mereka mencoba menyingkap sesuatu melalui Mayapada. Mengingatkan akan esensi diri yang terus bertransformasi dan berrefleksi, selain ketundukan dan kepasrahan dibarengin dengan ikhtiar untuk berusaha. Sentris bertutur dengan lembut ”Hidup sekali, temukan jati diri lalu, tinggalkan jejak//untuk hidup setelah mati, cinderamata dari Tuhan//sahabat dalam ingatan, kopi dan asap cukup nyaman//Tapaki jejak, lewati hari, tengelamkan gengsi//celah mungkin takan mewujud dua kali//dalam harmoni, simphony classik tua//iringi langkahku mencari arti Mayapada//Mencari garis dan titik terang//dari sekintal pertanyaan yang terlayang//firah manusia tak lepas dari stigma//gemuruh inspirasi terbahana hasis sativa//Mayapada serupakan luntahan kelana//nyata, fakta, doa dan cinta kencangkan pelana//nada pada nadi bergumam rasio lokus//in the name of time…elegi untuk focus”.

Mayapada merupakan tempat manusia hidup dengan segala polekmiknya.Manusia tidak dapat memisahkan diri dari kefanaan maupun keberadaan. Kedua hal tersebut akan saling mengisi yang menjadikan manusia (being). Nyawa dalam beat ini dipoles dan diciptakan oleh Sickness MP yang merupakan salah satu beatmaker dengan kemampuan mumpuni mengolah beat berjenis boom bap. Selain itu, lagu ini berjalan tanpa adanya chorus sebagai penanda bahwa Mayapada berisi konten padat yang perlu disimak.

Izinkan saya sedikit memberikan coretan dalam album mereka.Ketika Mulla Sadra menjelaskan tentang pandangan Dunia (weltanschauung) seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap kebenaran (asy-Syai fil khârij).Kebenaran yang dimaksud adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar dan realitas.Semakin besar pengenalannya, semakin luas dan dalam pandangan dunianya.mereduksi dari pemirikan Mulla Sadra bahwa pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titik tertinggi (kulminasi) peradaban dan sebaliknya akan membuatnya terpuruk hingga titik nadir peradaban. Karena nilai dan kualitas keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. Anda dikenal atas apa yang Anda kenal. Wujud akan mempunyai nilai yang sama (ekuivalen) dengan pengenalan Anda dan vice-versa.

Never Surrender meninggalkan kesan yang sama bagi saya dan senartogok dalam kutipan lirik ini ”Ada yang mendadak jadi sumbang//ada yang bergegas mengakhiri tapakan juang//karena hidup adalah zikir panjang//untuk tentram meloloskan diri dari gamang”. Selebihnya anda bisa mendengar langsung tentang cerita yang mendeskripsikan tentang berjuang.Demikian berjuang diceritakan hingga berlanjut pada lagu Berhujah.Mungkin maksud mereka adalah berhujjah atau memberikan alasan-alasan untuk terus melanjutkan perjuangan pada tema lagu sebelumnya. Sekali lagi, lagu ini berlalu tanpa chorusdan diisi penuh dengan 4 verse. Army of the Pharaohs pernah membuat lagu berjudul “The Demon’s Blade’. Lagu berjudul Ada Yang Mati tampak menyerupai lagu tersebut dalam struktur beat dan teknik chopping sample-nya. Mereka tidak menggambarkan raga yang sudah membusuk dalam tanah dan tak mampu bergerak. Justru kematian digambarkan kepada kita yang sedang “Memeluk lenggang, lalu gagap berbicara//pikiranpun berkarat dimakan lenggang masa//gelap yang disuguhkan kita hanya bisa//membaca wacana dengan minim aksinya//menatapi rupa dunia, kita dimana?//partisipan pemberi tawa para kurawa//tanpa kembali..bertanya dalam diri//masih kah tersisa cukup dari hati nurani//pandanganku gelap, tanpa pencerahan//kita disudutkan situasi yang kita “iyakan”//ia semakin biru, ada pula yang layu//sedang kita betah mencumbu manisnya madu//jarum jam yang berdetak bunyi jantungnya//hanya menjadi alat yang berkarat dalam masa//tanpa kembali melebur bertanya dalam diri//masih kah tersisa cukup dari hati nurani”.

Tunatenaga menjadi nomor selanjutnya.Torehan terhadap ketidakberdayaan kita menerima keikhlasan.Kalkulasi yang tertutup halimun dari gelapnya hati kita oleh sesaknya aktivitas dunia secara terus-menerus.Hingga pada akhirnya Dedikasi untuk menjelaskan kekurangan kita pada sesuatu yang tak teraba dan terlihat. Di sambung dengan sulutan api yang bersifat persuasif dalam Sunrise sebagai sebuah ajakan untuk kembali menjemput harapan dengan perjuangan. Cahaya yang tidak harus redup dalam gempuran kehidupan. Mereka membidik jitu apa yang diraasa oleh manusia pada umumnya. Hasrat bukan untuk dikebiri, karena ambisi untuk mewujudkan hidup yang mulia adalah hasrat itu sendiri. Kita perlu menghiraukan apa yang ada dan terbatas dalam wujud kita. Raga hanya sarana bagi jiwa.Dalam lagu ini kami menemukan pengalaman yang sangat personal.Kemampuan terbatas bukan terelak kepada waktu dan detik jam.Kita mampu melampauinya hingga batas cahaya.Karena terang merupakan pencapaian dan imajinasi adalah perwujudannya. Sebagai mana suhrawardi menjelaskan imajinasi (Al-Khayâlah) dalam pandangan kaum Iluminasionis adalah daya penyimpan dan penyeimbang jiwa, yang bertanggung jawab atas penyimpanan citra atau kesan mengenai hal-hal yang dapat diindra setelah mereka lenyap (dari indra), juga pengontrolan atas citra dengan menyusun dan menguraikannya kembali, untuk kemudian dipotensikan membentuk citra yang baru.Proses ini menjadi dasar penataran membentuk jiwa-jiwa sensitif, yang merasakan wujud-wujud benda non-sensible (tidak terindra) dan yang tidak berwujud.Sedangkan Underdream menjadi penegas bagi kita, mimpi yang harus dipertahankan dan diraih menjadi hak setiap manusia tanpa halangan dan desakan ekonomi, sosial, politik dan budaya.Kita berhak menyandang dan menggapai mimpi.

Malam hari selalu saya pilih untuk menikmati lagu-lagu dalam album milik Anonymous Alliance.Album ini selalu saya putar bergantian per-track dengan Album post-rock milik God An Astronaunt berjudul All Is Violent All Is Bright. menikmatinya secara bersamaan membuat saya begitu dalam merenungkan serta mengulang lirik-lirik puitis yang mereka rapalkan. Inilah straight foward style, selalu memainkan syair yang indah dalam ingatan. Mengutamakan penyampaian dengan artikulasi lugas untuk memperjelas setiap kata yang tersusun. Sebelumnya album ini pernah diulas lebih dulu oleh Doyz dengan judul “Ketika Hal Langka Bernama ‘Introspektif’ Hadir Dibalut Dentuman Boom Bap”. Benar adanya album ini membawa kita menilik kembali tentang bagaimana manusia memandang dirinya. ketika anda membaca review ini, anggaplah saya terlalu lebay menceritakan mereka. Berbeda dengan Doyz yang mendengar album ini memiliki sentuhan ala Pete rock, Group Home, Jugganots, serta Siah & Yesua DapoED. Jazzy tunes serta derapan jeep beats tradisional yang dikatakan Doyz bagi saya justru lebih mirip dengan beat yang digarap oleh Heltah Skeltah, Jeru The Damaja, Artifacts atau Hieroglyphics. Meskipun isi album ini sangat padat tanpa dilengkapi elemen dalam rap seperti sound scratch dan skit. Saya merasa sangat bersalah, karena sewaktu album ini belum dikemas.Jika tidak salah, kesempatan untuk mengisi beberapa lagu untuk bagian turntablist sebenarnya jatuh kepada saya.Namun, saat itu terdapat kendala yang tidak memungkin saya terlibat.Ketika menulis saya merasa menyesal tidak mengambil bagian didalamnya. Karena album ini akan menjadi salah satu daftar putar wajib yang akan selalu saya dengarkan.

Saya memang selalu meracau ketika mendengarkan Mayapada. Album ini membawa cara pandang retrospektif dan prospektif secara bersamaan. Saya dibawa dalam alam sebelum kelahiran manusia hingga harapan tentang ketangguhan manusia menjalani konsekuensi atas tindakannya sebagai mahluk bumi. Kita akan diajak menengok kembali tentang makna hidup yang mungkin saat ini sudah sangat jauh bergeser. Mungkin karena kita sudah lupa tentang apa itu kearifan, untuk apa itu berefleksi, di mana itu kebaikan, dan mengapa harus ada harapan. Sulit bukan? ah.. itu hanya sebatas yang saya pikirkan ketika membayangkan setiap lirik yang mereka tulis. Kemudian memikirkan perjalanan hidup macam apa yang sudah mereka lalui. (HEN)

Diposting pertama kali di laman Heartcorner.

Komentar

Postingan Populer